Pengaruh Bahasa
Gaul di Kalangan Remaja Indonesia
Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya
dengan tanda, misalnya kata dan gerakan. Zaman semakin
berubah, begitu pun juga bahasa, ada yang namanya bahasa masa kini atau biasa
yang disebut dengan bahasa gaul. Fenomena
bahasa gaul tersebut sedang terjadi di tengah
masyarakat kita layak untuk diperbincangkan. Bahasa gaul sangat popular,
bahkan menjadi behasa sehari –hari bagi anak muda. Bahasa ini digunakan sekaligus dikembangkan oleh
sebagian besar anak-anak muda di negeri ini. Bahkan ada pula beberapa
bahasa gaul yang dimodifikasi dari bahasa gaul Negara lain. Selain itu, bahasa gaul juga merupakan bahasa dengan kata-kata
yang dibalik ataupun ditambahkan beberapa imbuhan khusus.
Di
pihak lain, tidak sedikit pula yang menuding bahwa bahasa gaul berpotensi
merusak citra bahasa Indonesia, melucuti semangat berbahasa Indonesia yang baik
dan benar, selebihnya memberikan dampak negatif bagi pengguna bahasa ini.
Namun, apakah benar demikian? Ataukah itu hanya sebatas kekhawatiran saja? Bahasa sebagai produk dari kebudayaan melahirkan banyak
hipotesis. Budaya dan masyarakat merupakan dua unsur yang tidak dapat
dipisahkan. Keduanya bisa saling memengaruhi dan tidak jarang pula dapat
mendominasi satu sama lain. Bahkan menurut Prof. Soeparno, menentukan siapa
yang paling berpengaruh seperti menebak: duluan mana antara telur dan ayam.
Selain itu Sastrawan Taufik Ismail
menyoroti trend
yang terjadi di kalangan anak muda saat ini. Dirinya menyayangkan generasi muda
saat ini kurang mahir membaca puisi dan
menulis. "Saya berharap anak muda tak
hanya pintar berbahasa gaul saja, tapi juga mahir membuat dan membaca
puisi," ungkap Taufik, saat Jambore Perpustakaan II-2013, di LapanganKecamatanPamulang,Rabu(13/11/2013).
Setelah tahun ini beranjak menjadi tahun 200-an, dan
pasti banyak yang berfikir jika bahasa gaul mulai muncul pada tahun 200-an
pula. Tetapi nyatanya itu semua salah besar. Ternyata bahasa gaul sudah ada sejak
tahun 1970-an, dan saat itu namanua bukan bahasa gaul, melainkan bahasa prokem.
Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata
Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua fonemnya
yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir
yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian
disisipi -ok- menjadi bokap. Diperkirakan ragam ini berasal dari
bahasa khusus yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul,
sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa
Indonesia dan dialek Betawi.
Tidak hanya di Indonesia, di
Negara-Negara lain juga marak dengan bahasa gaul. Contohnya di daerah Amerika
Serikat, California pada tahun 1990-an bermunculan bahasa dan kata gaul yang
merupakan bahasa trend pada saat itu.
Kata-kata gaul yang pernah trend
tersebut seperti :
·
CHA
Perlu diketahui, singkatan yang
bersumber dari istilah-istilah gaul di internet tidak selama sopan. Ada juga
singkatan yang jika dipanjangkan, menjadi kurang sopan. Sebagai contoh CHA yang
merupakan kepanjangan dari "click here asshole”. CHA dipergunakan untuk
memancing orang untuk mengklik sebuah tautan (link).
·
AND, IOW & OTOH
OTOH memiliki arti “On the other hand”,
sementara IOW kepanjangan dari "In other words”. Keduanya, digunakan untuk
menyatakan makna “di samping itu ada “di sisi lain”.
·
F2F
Singkatan
tersebut merupakan kepanjangan dari “Face to Face”
·
LAT
Untuk menyatakan kekaguman atas
sesuatu. Di era 90-an, biasanya orang menyatakannya dengan singkatan LAT.
Kepanjangan adalah Lovely and Talented.
·
POTS
Ada juga ungkapan dengan singkatan
POTS, yang merupakan kepanjangan dari "Plan Old Telephone Service".
Tidak dijelaskan untuk apa biasanya ungkapan ini dipergunakan ketika era 90-an.
Hanya saja, POTS mengacu pada sebuah
teknologi telefon berbasis jaringan lokal akses tembaga atau yang lebih dikenal
dengan telefon umum.
·
QOS
Singkatan ini merupakan kepanjangan
dari "Quality of Service". Singkatan ini kerap digunakan untuk
menyatakan ungkapan seseorang, namun tidak bisa memenuhi permintaan orang lain
secara optimal.
Pada umunya bahasa
merupakan alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk memperoleh
kebutuhannya. Selain sebagai alat komunikasi yang merupakan fungsi bahasa
secara umum, bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan identitas
diri. Artinya, bahasa gaul hanya digunakan oleh penutur serta kalangan
tertentu. Bahasa gaul atau dalam istilah linguistik disebut dengan bahasa
prokem ini digandrungi oleh sebagian besar anak muda di Indonesia, lebih
khususnya di daerah perkotaan. Faktor yang membuat bahasa ini tumbuh subur
karena adanya media yang selalu memperkenalkan bahasa gaul kepada penyimaknya,
seperti televisi, jejaring sosial, sinetron, film, majalah anak muda, dsb.
Untuk mengetahui dampak pengaruh bahasa gaul, telah
dilakukan 3 kali wawancara kepada 2 mahasiswa dan 1 mahasiswi. Pertanyaan dari
wawancara tersebut adalah : “Adakah pengaruh Bahasa gaul terhadap lingkungan? Dan
apakah pengaruh yang ditimbulkan bahasa gaul baik atau buruk di kalangan
remaja?”. Berikut jawaban dari 2 mahasiswa dan 1 mahasiswi tersebut :
Menurut Shelma, mahasiswi
Universitas Indonesia. “Pengaruh pasti lah ada, Cuma baik atau enggaknya
pengarub tersebut ya tergantung kitanya. Ya kalo misalkan bahasa gaul yang kita
buat atau gunakan ga merupakan bahasa yang mengandung unsur-unsur tidak baik,
sudah pasti pengaruhnya pun tidak baik.”
Menurut Fachmy, mahasiswa
Gunadarma. “Ada. Ada pengaruh yang baik sama buruknya juga sih. Kalo misalkan yang
baik ya kita sebagai anak muda punya bahasa sendiri dalam berkomunikasi antar sesama.
Kalau yang enggak baiknya, kalau misalkan terlalu sering pakai bahasa gaul, bias-bisa
kita lupa bahasa Indonesia, bahasa umum kita sendiri.
Menurut Ewa, mahasiswa
Gunadarma. Ada sih, tapi banyakan baiknya dibandingin buruknya deh kayaknya.
Kalo baiknya, kita lebih ngerasa enjoy gitu kalo ngobrol pakai bahasa gaul.
Kalau buruknya, jarang pakai bahasa Indonesia, bahasa yang diajarin dari kecil.”
.
Berdasarkan wawancara sebelumnya, tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa gaul ini akan
berpengaruh. Permasalahannya bukan pada salah tidaknya bahasa gaul tersebut,
melainkan bagaimana cara menempatakan bahasa gaul dengan bahasa formal versi
pemerintah (baca: Badan Bahasa) pada situasi tertentu. Sosiolinguistik
berbicara tentang kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa
dalam masyarakat. Alasannya, bahasa tidak akan pernah lepas dari masyarakat
pemakainya karena bahasa dipandang sebagai gejala sosial. Gejala ini
menempatkan bahwa dalam bahasa tidak bisa ditentukan oleh faktor linguistik
saja, faktor nonlinguistik juga ikut berpengaruh. Faktor nonlinguistik meliputi
faktor sosial (seperti status sosial, tingkat pendidikan, ideologi, tingkat
ekonomi, umur, jenis kelamin, dsb.) dan faktor situasional (seperti siapa yang
berbicara, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa). Kedua
faktor inilah yang merupakan “jalan tengah” dalam menyikapi bahasa gaul.
Kondisi
ini menimbulkan paradoks bahasa. Di satu pihak kita menghendaki penggunaan
bahasa sejalan dengan apa yang ada dalam aturan baku bahasa Indonesia. Di pihak
lain terdapat asumsi bahwa bahasa gaul masih merupakan bagian dari bahasa
Indonesia. Kedua kubu ini berada pada posisi yang sangat bertolak belakang.
Adanya faktor sosial dan faktor situasional inilah yang mengakibatkan
terjadinya variasi bahasa. Bagaimanapun juga, semangat menjunjung tinggi bahasa
Indonesia merupakan harga mati. Namun, seperti dalam bahasa Jawa terdapat
variasi bahasa yang disebut dengan unggah-ungguh. Artinya, penggunaan
suatu bahasa tergantung pada situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya.
Sebagai contoh, seorang anak ketika berbicara dengan orangtua atau kepada orang
yang lebih tua darinya dibandingkan dengan seorang anak yang berbicara dengan
teman sebaya, tentu penggunaan bahasa yang disampaikan berbeda, bukan?
Martin
Joos membagi variasi bahasa menjadi lima macam ragam, yaitu ragam beku (frozen),
ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual),
dan ragam akrab (intimate). Dalam keseharian kita, tentu kelima ragam
tersebut secara bergantian digunakan dengan memerhatikan tingkat keformalannya.
Misalnya, pada ragam beku dan ragam baku, diperlukan tingkat keformalan yang
lebih tinggi jika dibandingkan dengan ragam yang lain. Ragam santai dan ragam
akrab tidak sekaku ragam-ragam sebelumnya, karena kedua ragam ini berada pada
situasi yang santai dan akrab sehingga tuntutan penggunaan bahasa yang formal
kurang diperhatikan. Pada situasi akrab dan santai inilah yang dibentuk oleh
komunitas tertentu seperti pada teman sebaya, sahabat karib, teman spesial
terlibat dalam bahasa gaul. Kata ciyus?, miapah, kepo, dsb. merupakan
beberapa contoh bahasa gaul. Celakanya ketika kata-kata tersebut muncul dalam
situasi formal/resmi seperti dalam rapat-rapat resmi, surat dinas, seminar
nasional, tulisan ilmiah, proses pembelajaran di kelas, dll. Berlaku
sebaliknya, kita menggunakan bahasa baku saat berbicara dengan teman sebaya,
pada situasi santai seperti dalam melakukan aktivitas olahraga, bermain facebook,
twitter, dll. Tentunya yang dijadikan pemahaman adalah kesadaran dalam
menempatkan ragam bahasa ke dalam situasi dan kondisi yang tepat. Terdapat
penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak muda ketika mengerjakan tugas mereka
cenderung menghindari bahasa gaul, artinya mereka telah sadar dalam penggunaan
suatu bahasa sesuai dengan ragamnya.
Bahasa
baku merujuk pada tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas dan kualitas serta
yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dalam ragam bahasa baku ini,
pemakainya cenderung lebih dihargai dibandingkan ragam-ragam lain. Namun, yang
terjadi adalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hanya memasukkan
bahasa ragam baku, ragam tidak baku kurang diperhatikan, padahal jika merujuk
pada teori pendekatan deskriptif bahwa bahasa harus sejalan dengan apa yang ada
di masyarakat. “Sang Pembuat” KBBI seakan-akan menutup mata dengan adanya
bahasa gaul. Bandingkan dengan kamus Oxford di Inggris yang sangat update
terhadap perkembangan bahasa Inggris. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ini
banyak istilah baru yang masuk karena menyesuaikan perkembangan budaya
masyarakatnya, seperti istilah tweet yang sudah masuk ke dalam
perbendaharaan kata di kamus Oxford. Kamus Oxford juga membagi suatu leksem
sesuai dengan tingkat keformalannya, maksudnya saat membuka kamus tersebut kita
dapat mengetahui leksem tersebut termasuk kata formal atau bukan. Dalam KBBI,
terakhir kali diterbitkan pada tahun 2008 yang lalu dan sampai saat ini belum
ada tanda-tanda untuk menerbitkan edisi terbaru. Ibaratnya, KBBI dengan bahasa
yang berkembang saat ini saling berkejaran, namun KBBI belum bisa mengimbangi
alias kalah telak. Padahal bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial,
budaya, ilmu, dan teknologi. Ini yang mengakibatkan adanya stigma dari kalangan
tertentu bahwa penggunaan kata yang tidak ada dalam kamus merupakan “dosa
besar” dalam berbahasa. Di satu sisi memang benar, kita harus mengikuti
kaidah-kaidah dalam berbahasa. Namun, apakah dengan kemandulan dari pembuat
KBBI lantas membuat masyarakat kita menjadi ikut-ikutan ketingggalan zaman?
Penggunaan
ragam bahasa baku dan tidak baku berkaitan dengan situasi dan kondisi pemakainya.
keduanya merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang harus kita hormati.
Pemakai bahasa gaul merupakan upaya dalam proses pencarian jati diri, dan anak
muda selalu ingin tampil berbeda serta ekspresif. Biarkan bahasa gaul tumbuh
dan bergerak sesuai dengan ranahnya, asalkan masih dalam batas-batas tertentu
seperti yang telah dijelaskan di atas. Jika ragam-ragam dalam bahasa itu kita
susun seperti piramida, maka ragam baku berada di puncak piramida tersebut.
Artinya, ragam baku menempati posisi yang paripurna, pemakainya merupakan
golongan orang dewasa yang terdidik atau ilmuan. Ragam bahasa baku biasanya
digunakan dalam situasi resmi, seperti acara seminar, pidato, penulisan karya
ilmiah, dll.
Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengaruh
bahasa gaul di kalangan remaja cukup baik, karena bahasa gaul merupakan hal yang lazim dalam proses
berbahasa. Selain itu, jika penggunaan bahasa gaul masih dalam batasan-batasannya,
bahasa gaul tidak kan akan berdampak buruk.
Kita harus menyadari betul bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari bahasa
Indonesia yang selalu berkembang sesuai dengan konteks zaman. Adalah tugas kita
semua untuk memberikan pemahaman bahwa bahasa Indonesia dapat digunakan dalam
beragam situasi sesuai dengan faktor sosial dan faktor situasional tanpa
melupakan kaidah-kaidah baku dalam berbahasa.
Salam Cinta Bahasa Indonesia!
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar