Senin, 06 Juni 2016

Tugas Softskill Bahasa Indonesia (Menulis Esai)



Pengaruh Bahasa Gaul di Kalangan Remaja Indonesia

Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya dengan tanda, misalnya kata dan gerakan. Zaman semakin berubah, begitu pun juga bahasa, ada yang namanya bahasa masa kini atau biasa yang disebut dengan bahasa gaul. Fenomena bahasa gaul tersebut sedang terjadi di tengah masyarakat kita layak untuk diperbincangkan. Bahasa gaul sangat popular, bahkan menjadi behasa sehari –hari bagi anak muda. Bahasa ini digunakan sekaligus dikembangkan oleh sebagian besar anak-anak muda di negeri ini. Bahkan ada pula beberapa bahasa gaul yang dimodifikasi dari bahasa gaul Negara lain. Selain itu, bahasa gaul juga merupakan bahasa dengan kata-kata yang dibalik ataupun ditambahkan beberapa imbuhan khusus.

Di pihak lain, tidak sedikit pula yang menuding bahwa bahasa gaul berpotensi merusak citra bahasa Indonesia, melucuti semangat berbahasa Indonesia yang baik dan benar, selebihnya memberikan dampak negatif bagi pengguna bahasa ini. Namun, apakah benar demikian? Ataukah itu hanya sebatas kekhawatiran saja? Bahasa sebagai produk dari kebudayaan melahirkan banyak hipotesis. Budaya dan masyarakat merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya bisa saling memengaruhi dan tidak jarang pula dapat mendominasi satu sama lain. Bahkan menurut Prof. Soeparno, menentukan siapa yang paling berpengaruh seperti menebak: duluan mana antara telur dan ayam.

Selain itu Sastrawan Taufik Ismail menyoroti trend yang terjadi di kalangan anak muda saat ini. Dirinya menyayangkan generasi muda saat ini kurang mahir membaca puisi dan menulis. "Saya berharap anak muda tak hanya pintar berbahasa gaul saja, tapi juga mahir membuat dan membaca puisi," ungkap Taufik, saat Jambore Perpustakaan II-2013, di LapanganKecamatanPamulang,Rabu(13/11/2013).

Setelah tahun ini beranjak menjadi tahun 200-an, dan pasti banyak yang berfikir jika bahasa gaul mulai muncul pada tahun 200-an pula. Tetapi nyatanya itu semua salah besar. Ternyata bahasa gaul sudah ada sejak tahun 1970-an, dan saat itu namanua bukan bahasa gaul, melainkan bahasa prokem. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok- menjadi bokap. Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.

Tidak hanya di Indonesia, di Negara-Negara lain juga marak dengan bahasa gaul. Contohnya di daerah Amerika Serikat, California pada tahun 1990-an bermunculan bahasa dan kata gaul yang merupakan bahasa trend pada saat itu. Kata-kata gaul yang pernah trend tersebut seperti :

·         CHA
Perlu diketahui, singkatan yang bersumber dari istilah-istilah gaul di internet tidak selama sopan. Ada juga singkatan yang jika dipanjangkan, menjadi kurang sopan. Sebagai contoh CHA yang merupakan kepanjangan dari "click here asshole”. CHA dipergunakan untuk memancing orang untuk mengklik sebuah tautan (link).

·         AND, IOW & OTOH
OTOH memiliki arti “On the other hand”, sementara IOW kepanjangan dari "In other words”. Keduanya, digunakan untuk menyatakan makna “di samping itu ada “di sisi lain”.

·         F2F
Singkatan tersebut merupakan kepanjangan dari “Face to Face”

·         LAT
Untuk menyatakan kekaguman atas sesuatu. Di era 90-an, biasanya orang menyatakannya dengan singkatan LAT. Kepanjangan adalah Lovely and Talented.

·         POTS
Ada juga ungkapan dengan singkatan POTS, yang merupakan kepanjangan dari "Plan Old Telephone Service". Tidak dijelaskan untuk apa biasanya ungkapan ini dipergunakan ketika era 90-an.
Hanya saja, POTS mengacu pada sebuah teknologi telefon berbasis jaringan lokal akses tembaga atau yang lebih dikenal dengan telefon umum.

·         QOS
Singkatan ini merupakan kepanjangan dari "Quality of Service". Singkatan ini kerap digunakan untuk menyatakan ungkapan seseorang, namun tidak bisa memenuhi permintaan orang lain secara optimal.

Pada umunya bahasa merupakan alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kebutuhannya. Selain sebagai alat komunikasi yang merupakan fungsi bahasa secara umum, bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan identitas diri. Artinya, bahasa gaul hanya digunakan oleh penutur serta kalangan tertentu. Bahasa gaul atau dalam istilah linguistik disebut dengan bahasa prokem ini digandrungi oleh sebagian besar anak muda di Indonesia, lebih khususnya di daerah perkotaan. Faktor yang membuat bahasa ini tumbuh subur karena adanya media yang selalu memperkenalkan bahasa gaul kepada penyimaknya, seperti televisi, jejaring sosial, sinetron, film, majalah anak muda, dsb.

Untuk mengetahui dampak pengaruh bahasa gaul, telah dilakukan 3 kali wawancara kepada 2 mahasiswa dan 1 mahasiswi. Pertanyaan dari wawancara tersebut adalah : “Adakah pengaruh Bahasa gaul terhadap lingkungan? Dan apakah pengaruh yang ditimbulkan bahasa gaul baik atau buruk di kalangan remaja?”. Berikut jawaban dari 2 mahasiswa dan 1 mahasiswi tersebut :

Menurut Shelma, mahasiswi Universitas Indonesia. “Pengaruh pasti lah ada, Cuma baik atau enggaknya pengarub tersebut ya tergantung kitanya. Ya kalo misalkan bahasa gaul yang kita buat atau gunakan ga merupakan bahasa yang mengandung unsur-unsur tidak baik, sudah pasti pengaruhnya pun tidak baik.”

Menurut Fachmy, mahasiswa Gunadarma. “Ada. Ada pengaruh yang baik sama buruknya juga sih. Kalo misalkan yang baik ya kita sebagai anak muda punya bahasa sendiri dalam berkomunikasi antar sesama. Kalau yang enggak baiknya, kalau misalkan terlalu sering pakai bahasa gaul, bias-bisa kita lupa bahasa Indonesia, bahasa umum kita sendiri.

Menurut Ewa, mahasiswa Gunadarma. Ada sih, tapi banyakan baiknya dibandingin buruknya deh kayaknya. Kalo baiknya, kita lebih ngerasa enjoy gitu kalo ngobrol pakai bahasa gaul. Kalau buruknya, jarang pakai bahasa Indonesia, bahasa yang diajarin dari kecil.”
.
Berdasarkan wawancara sebelumnya, tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa gaul ini akan berpengaruh. Permasalahannya bukan pada salah tidaknya bahasa gaul tersebut, melainkan bagaimana cara menempatakan bahasa gaul dengan bahasa formal versi pemerintah (baca: Badan Bahasa) pada situasi tertentu. Sosiolinguistik berbicara tentang kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Alasannya, bahasa tidak akan pernah lepas dari masyarakat pemakainya karena bahasa dipandang sebagai gejala sosial. Gejala ini menempatkan bahwa dalam bahasa tidak bisa ditentukan oleh faktor linguistik saja, faktor nonlinguistik juga ikut berpengaruh. Faktor nonlinguistik meliputi faktor sosial (seperti status sosial, tingkat pendidikan, ideologi, tingkat ekonomi, umur, jenis kelamin, dsb.) dan faktor situasional (seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa). Kedua faktor inilah yang merupakan “jalan tengah” dalam menyikapi bahasa gaul.

Kondisi ini menimbulkan paradoks bahasa. Di satu pihak kita menghendaki penggunaan bahasa sejalan dengan apa yang ada dalam aturan baku bahasa Indonesia. Di pihak lain terdapat asumsi bahwa bahasa gaul masih merupakan bagian dari bahasa Indonesia. Kedua kubu ini berada pada posisi yang sangat bertolak belakang. Adanya faktor sosial dan faktor situasional inilah yang mengakibatkan terjadinya variasi bahasa. Bagaimanapun juga, semangat menjunjung tinggi bahasa Indonesia merupakan harga mati. Namun, seperti dalam bahasa Jawa terdapat variasi bahasa yang disebut dengan unggah-ungguh. Artinya, penggunaan suatu bahasa tergantung pada situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Sebagai contoh, seorang anak ketika berbicara dengan orangtua atau kepada orang yang lebih tua darinya dibandingkan dengan seorang anak yang berbicara dengan teman sebaya, tentu penggunaan bahasa yang disampaikan berbeda, bukan?

Martin Joos membagi variasi bahasa menjadi lima macam ragam, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate). Dalam keseharian kita, tentu kelima ragam tersebut secara bergantian digunakan dengan memerhatikan tingkat keformalannya. Misalnya, pada ragam beku dan ragam baku, diperlukan tingkat keformalan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ragam yang lain. Ragam santai dan ragam akrab tidak sekaku ragam-ragam sebelumnya, karena kedua ragam ini berada pada situasi yang santai dan akrab sehingga tuntutan penggunaan bahasa yang formal kurang diperhatikan. Pada situasi akrab dan santai inilah yang dibentuk oleh komunitas tertentu seperti pada teman sebaya, sahabat karib, teman spesial terlibat dalam bahasa gaul. Kata ciyus?, miapah, kepo, dsb. merupakan beberapa contoh bahasa gaul. Celakanya ketika kata-kata tersebut muncul dalam situasi formal/resmi seperti dalam rapat-rapat resmi, surat dinas, seminar nasional, tulisan ilmiah, proses pembelajaran di kelas, dll. Berlaku sebaliknya, kita menggunakan bahasa baku saat berbicara dengan teman sebaya, pada situasi santai seperti dalam melakukan aktivitas olahraga, bermain facebook, twitter, dll. Tentunya yang dijadikan pemahaman adalah kesadaran dalam menempatkan ragam bahasa ke dalam situasi dan kondisi yang tepat. Terdapat penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak muda ketika mengerjakan tugas mereka cenderung menghindari bahasa gaul, artinya mereka telah sadar dalam penggunaan suatu bahasa sesuai dengan ragamnya.

Bahasa baku merujuk pada tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas dan kualitas serta yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dalam ragam bahasa baku ini, pemakainya cenderung lebih dihargai dibandingkan ragam-ragam lain. Namun, yang terjadi adalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hanya memasukkan bahasa ragam baku, ragam tidak baku kurang diperhatikan, padahal jika merujuk pada teori pendekatan deskriptif bahwa bahasa harus sejalan dengan apa yang ada di masyarakat. “Sang Pembuat” KBBI seakan-akan menutup mata dengan adanya bahasa gaul. Bandingkan dengan kamus Oxford di Inggris yang sangat update terhadap perkembangan bahasa Inggris. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ini banyak istilah baru yang masuk karena menyesuaikan perkembangan budaya masyarakatnya, seperti istilah tweet yang sudah masuk ke dalam perbendaharaan kata di kamus Oxford. Kamus Oxford juga membagi suatu leksem sesuai dengan tingkat keformalannya, maksudnya saat membuka kamus tersebut kita dapat mengetahui leksem tersebut termasuk kata formal atau bukan. Dalam KBBI, terakhir kali diterbitkan pada tahun 2008 yang lalu dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk menerbitkan edisi terbaru. Ibaratnya, KBBI dengan bahasa yang berkembang saat ini saling berkejaran, namun KBBI belum bisa mengimbangi alias kalah telak. Padahal bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial, budaya, ilmu, dan teknologi. Ini yang mengakibatkan adanya stigma dari kalangan tertentu bahwa penggunaan kata yang tidak ada dalam kamus merupakan “dosa besar” dalam berbahasa. Di satu sisi memang benar, kita harus mengikuti kaidah-kaidah dalam berbahasa. Namun, apakah dengan kemandulan dari pembuat KBBI lantas membuat masyarakat kita menjadi ikut-ikutan ketingggalan zaman?

Penggunaan ragam bahasa baku dan tidak baku berkaitan dengan situasi dan kondisi pemakainya. keduanya merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang harus kita hormati. Pemakai bahasa gaul merupakan upaya dalam proses pencarian jati diri, dan anak muda selalu ingin tampil berbeda serta ekspresif. Biarkan bahasa gaul tumbuh dan bergerak sesuai dengan ranahnya, asalkan masih dalam batas-batas tertentu seperti yang telah dijelaskan di atas. Jika ragam-ragam dalam bahasa itu kita susun seperti piramida, maka ragam baku berada di puncak piramida tersebut. Artinya, ragam baku menempati posisi yang paripurna, pemakainya merupakan golongan orang dewasa yang terdidik atau ilmuan. Ragam bahasa baku biasanya digunakan dalam situasi resmi, seperti acara seminar, pidato, penulisan karya ilmiah, dll.

Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengaruh bahasa gaul di kalangan remaja cukup baik, karena bahasa gaul merupakan hal yang lazim dalam proses berbahasa. Selain itu, jika penggunaan bahasa gaul masih dalam batasan-batasannya, bahasa gaul tidak kan akan berdampak buruk. Kita harus menyadari betul bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang selalu berkembang sesuai dengan konteks zaman. Adalah tugas kita semua untuk memberikan pemahaman bahwa bahasa Indonesia dapat digunakan dalam beragam situasi sesuai dengan faktor sosial dan faktor situasional tanpa melupakan kaidah-kaidah baku dalam berbahasa.

Salam Cinta Bahasa Indonesia!


Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar